Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Friday, Oct 24th

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

Mendidik Anak Sholeh

E-mail Print PDF

Anak Sholeh Generasi Penyejuk Hati

Robbi habli minasholihin….
Ya Rabb karuniakanlah kami keturunan anak-anak yang sholeh…

Kiranya demikian lantunan doa dari setiap ayah bunda yang merindukan hadirnya generasi penerus yang sholeh dan bertakwa pada Allah swt. Sedemikian besar harapan orang tua agar anak-anaknya menjadi anak yang sholeh.

Menurut Ustadz Anwar Jufri, Lc dalam sebuah seminar parenting yang digelar di Graha Shaba Buana, tugas orang tua adalah mempertemukan anaknya dengan seseorang yang mampu mendekat-kan si anak kepada Allah swt. Dari pemahaman ini berarti dalam mendidik generasi menjadi anak sholeh perlu dipertemukan dengan guru yang mampu membimbing anak kepada ketaatan kepada Allah swt. Apa kriteria anak sholeh sebenarnya? Upaya apa yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidiknya?

Adalah Ibu Rosiena Retno Suryani seorang ummahat yang memiliki 4 orang putra, beliau akrab disapa Bu Rosi, menuturkan karakteristik anak sholeh di mata beliau adalah generasi yang mampu mengamalkan ajaran Islam. Generasi ini tentu tidak hadir dengan sendirinya, perlu bimbingan dan kerja keras orang tua serta guru dalam mendampingi prosesnya.

Selama membimbing putra-putrinya, Ibu Rosi senantiasa berusaha untuk mengondisikan rumahnya dengan nuansa Islami. Agar kehidupan putra putrinya tidak terwarnai hal-hal negatif, sejak balita dipilihkan teman dan pengasuh yang baik. Ketika anak-anak memasuki gerbang sekolah, maka beliau memilihkan lembaga pendidikan yang Islami. Beliau juga berupaya agar nilai-nilai Islam sampai kepada mereka, melalui nasihat, bacaan dan media informasi lain.

Pentingnya Pendidikan Agama
Sehebat apapun orang tidak akan pernah dapat bertahan dalam kemelut masalah hidup tanpa merasa berserah kepada sang Khaliq. Demikian pentingnya keberserahan seorang manusia kepada pencipta-Nya sehingga semua orang yang percaya merasa yakin bahwa mengenalkan anak kepada Tuhannya adalah hal terpenting.

Demikian pula bagi ibu Rosi beliau berusaha menguatkan anak dengan prinsip Islami, hal ini membutuhkan dukungan guru agar harapan itu dapat tercipta. Selain itu juga doa yang tiada terputus bagi sang anak agar jiwa mereka mudah menerima nasihat, mudah tersentuh dengan kebaikan dan hidayah Allah. Jika nilai-nilai agama telah melekat pada diri anak, maka saat mereka melebur dengan masyarakat luas, mereka memiliki keteguhan hati dan mampu memilih yang hak dan yang batil.

Hal senada juga diterapkan di Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) dr. Soeharso Surakarta. Walaupun termasuk lembaga umum, namun pengelola menempatkan kurikulum pendidikan agama sebagai pokok pelajaran bagi anak didiknya.

Meskipun hidup sudah melatih mental anak-anak itu secara alami untuk menjadi pribadi yang bermental baja dan tidak putus asa, tetapi para pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC dr. Soeharso merasa perlu untuk tetap mengingatkan mereka agar selalu bergantung kepada Allah swt. Dengan komposisi penganut agama yang beragam, semua anak didik mendapatkan porsinya masing-masing. Mereka dididik agar selalu mengingat sang Pencipta dan Dzat yang tak pernah lelah mendengarkan keluh kesah dari hamba-hamba-Nya.

Bagi para pendidik, kesempatan mengenalkan mereka kepada Tuhannya sangatlah berharga. Melihat keseharian dan polah tingkah yang istimewa dari anak-anak berkebutuhan khusus kerap kali membuat Bu Ela, salah satu pendidik, makin merasa bersyukur saja kepada Allah swt. Guru berjilbab dan berkacamata ini diperbantukan pemerintah untuk mengajar Bahasa Inggris dari SD-SMA SLB di sini. Kesabaran dan telaten adalah kata kunci untuk menikmati tugas mulianya bersama anak-anak istimewa ini.

Pembiasaan Beramal Shalih sejak Dini

Bagi Umi Nova, guru di sebuah PG/TKIT di Solo mengungkapkan, “Anak itu awalnya ibarat kertas putih, tergantung kita (orang tua dan guru – red) yang mewarnainya.” Selama di sekolah beliau beserta jajaran pendidik, senantiasa mengondisikan anak-anak untuk membiasakan adab-adab Islami sejak usia dini. Bagi Umi Nova pembiasaan shalat dan doa sejak dini adalah hal yang sangat penting untuk terus menerus dipantau. Anak yang mulai menyepelekan shalatnya cenderung menyepelekan hal yang lain. Ada masa yang berat bagi seorang guru untuk menjelaskan keberadaan Allah yang abstrak bagi anak-anak usia dini. Namun hal ini bisa disiasati dengan menggunakan cerita dan visualisasi lewat makhluk ciptaan Allah.  

Banyak suka duka dalam mendidik generasi dambaan umat, ada kalanya muncul kegelisahan saat target belum tercapai, namun semua itu dalam batas kewajaran. Namun bagi beliau justru lebih banyak rasa bahagia yang hadir dalam hati, selama membersamai siswa-siswanya. Beliau mengakui lebih banyak belajar lewat kejernihan hati dan kepolosan anak-anak.  

Sebelum mendidik generasi menjadi anak sholeh, tentu para pendidik perlu mengevaluasi diri. Agar mampu menjadi panutan bagi siswa siswinya. Ya, meningkatkan kualitas diri pribadi (baik orang tua atau guru) merupakan kunci sebelum mendidik generasi dambaan umat. Karena setiap anak pasti membutuhkan sosok yang secara kasat mata dapat dijadikan teladan atau row model dalam hal kebaikan.

Kini sudah saatnya setiap orang tua memilihkan habitat dan pembimbing yang baik dan sesuai bagi potensi anak-anaknya, sehingga mereka mengenal dan memiliki kedekatan hati dengan sang Maha Pemberi kehidupan, Allah swt. Wallahu a'lam bishawab. (Yun/If)


blog comments powered by Disqus

Share this post