Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Sunday, Apr 20th

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

Jujur Pangkal Taqwa

E-mail Print PDF

Artinya : Rasul Saw. bersabda : “Hendaklah kalian semua menjadi jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan menyampaikan kalian ke syurga. Bialamana seseorang itu jujur dan menguasai sifat jujur (secara terus menerus), maka Allah menetapkannya sebagai seorang yang jujur. Dan sekali-kali jangan kalian berbohong, karena sesungguhnya kebohongan itu menggiring kalian kepada berbagai kejahatan (dosa) dan sesungguhnya berbagai kejahatan itu akan menggiring kalian ke neraka. Bilamana seseorang itu berbohong dan terus menerus berbohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai pembohong.

 

Sanad Hadits
Hadits terdapat dalam Shahih Muslim  No. 6805, Shahih Al-Bukhari, Musnab Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi No. 1971, Ibnu Majah,  Sunan Baihaqi No. 20606, Shahih Ibnu Hibban No. 274 dan Ad-Darimi, sedangkan lafadznya dari Muslim). Perawi hadits dari Rasulullah saw. adalah Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Hubaib Al-Hudzali Abu Abdirrahman.r.a  Beliau termasuk As-Sabiqunal Awwalun dan termasuk ulama senior dari kalangan sahabat. Keutamaan beliau banyak 'Umar r.a. mengangkat beliau sebagai amir di Kufah. Beliau wafat tahun 32 H di Madinah.
Kandungan dan Hikmah Hadits  
Dari hadist tersebut di atas dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut :    

1. Sifat jujur merupakan salah satu ciri seorang muslim pengikut Muhammad saw.
Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya' tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid'ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

2. Sifat jujur itu adalah sumber segala kebaikan di dunia dan akhirat.
Allah berfirman: Artinya : “Allah Berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah Rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. al-Maidah (5) : 119)
Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Kejujuran harus menjadi karakter dalam kehdupan agar menghasilkan berbagai kebaikan dunia dan akhirat. Untuk menjadi karakter, kejujuran harus dipraktekkan di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi apa saja, sesuai petunjuk Rasul saw.
Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan. Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda, “Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat. Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta. Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya –dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya.

3.Dusta merupakan pangkal kejahatan
Dusta adalah satu ciri orang Munafik. Nabi Muhammad saw.: Artinya : “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)

Allah mengutuk orang yang banyak berbohong dengan firman-Nya:
?????? ?????????????? -??-
Artinya : “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” [QS Adz Dzaariyaat (51) :10]

Siksa yang pedih di neraka disediakan bagi para pendusta: Artinya : “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” [Al Baqarah (2) :10]
?????? ???????? ???????? ??????? -?-
Artinya : “Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa” [Al Jaatsiyah (45) :7]

4. Ketidakjujuran atau kedustaan berakibat pada penderitaan orang banyak.
Bila seseorang atau suatu masyarakat dan bangsa memiliki karakter pembohong, tunggulah kehancuran di dalam kehidupan dunia dan kesengsaraan di akhirat kelak. Ketidakjujuran merupakan sumber segala kejahatan, dan kejahatan jika sudah merajalela maka akan mengakibatkan penderitaan manusia. Berbagai kejahatan public yang menyengsarakan orang banyak seperti korupsi, money laundry (pencucian uang), nepotisme, kolusi, dan mafia pajak  bersumber dari ketidakjujuran. Ketidakjujuran juga membuat orang susah untuk mendapatkan keadilan. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus maka akan menimbulkan kemarahan dan ketidakpercayaan public pada pemerintah dan lembaga peradilan. Jika ketidakpercayaan dan keterputusasaan masyarakat membesar, maka akan mengakibatkan pecahnya revolusi dan pergolakan.
Kehancuran kehidupan keluarga dan rumah tangga seperti perselingkuhan dan pergundikan juga bersumber dari ketidakjujuran. Jika hal ini membudaya, maka dikhawatirkan kehidupan anak-anak dan generasi muda yang akan datang akan suram.

5.    Kejujuran pangkal taqwa dan kedustaan pangkal dosa
Untuk mencapainya, kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri, kita memerlukan rumah tangga, komunitas atau jamaah dan bahkan negara yang jujur agar kejujuran itu menjadi karakter kita. Kalau tidak, kita akan terbawa dan terbentuk sebagai orang yang memiliki karakter pembohong dan tidak jujur, sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Al-Qur'an :  Artinya : “Wahai orang-orang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan jadilah kamu (hidup) bersama orang-orang yang jujur”. (Surah Attaubah (9) : 119).
Bahkan berdusta tetap dilarang meski hanya sekedar untuk tertawaan. Nabi Muhammad saw. bersabda : “Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia…celaka dia.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

6. Jujur bukan berarti lugu  
Dalam keadaan tertentu, berbohong itu diizinkan. Tapi itu pun pada saat yang luar biasa dan Nabi sendiri tetap menghindari untuk tidak berbohong. Dalam sebuah hadits dinyatakan : Rasulullah saw. membolehkan dusta dalam tiga perkara, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan pembicaraan suami kepada isterinya. (HR. Ahmad)

Diasuh oleh:
Ahmad Rasyid Ridha,S.PdI, M.PdI


blog comments powered by Disqus

Share this post