Majalah Nur Hidayah

Media Mencerdaskan Umat

Wednesday, Sep 03rd

Last update:08:12:27 PM GMT

Headlines:
You are here:

Semangat Meraih Ridho Allah swt.

E-mail Print PDF

“Tidak ada jalan buntu untuk menggapai ridho Allah swt. Di sana, kaum muslimin menggantungkan waktu shalat dengan sistem komputer. Ada software adzan yang sudah diset khusus dengan waktu Perancis. Waktu Subuh paling pagi dilakukan pada jam 3.00 dan paling siang jam 7 pagi. Bayangkan, sangat ekstrim bukan? Tentunya kondisi geografis di daerah seperti Perancis menuntut kesadaran lebih dari kaum muslimin di sana. Karena tidak seperti kita di Indonesia, setiap memasuki waktu shalat selalu diingatkan dnegan kumandang adzan” Rasulullah pernah menegur putrinya Fatimah yang tidur di pagi hari. Fatimah ra. putri Rasulullah saw pernah bercerita, “Ayahku lewat di sampingku, sedang aku masih berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dengan kakinya dan berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezki kepada hamba-Nya, antara terbit fajar dengan terbit matahari.”" (HR Ahmad dan Baihaqi)

Soal rezeki yang dibagikan pada waktu pagi antara terbit fajar dan terbit matahari, Ibnul Qoyyim dalam bukunya Zaadul Ma'ad juga menyinggung empat hal yang menghambat datangnya rezeki. Empat hal tersebut adalah tidur di waktu pagi, sedikit shalat, malas-maslaan dan berkhianat. Jadi jika orang dulu mengatakan jatah rezeki kita dimakan sama ayam jika tidur di pagi hari, idiom tersebut ada benarnya.

Dalam kehidupannya, manusia dibatasi oleh waktu yang terus berputar tanpa henti. Tak peduli manusia itu ingin menahan lebih lama atau mempercepatnya. Aktivitas setiap hari dimulai di pagi hari, saat bangun pagi dan berakhir saat mata terkatup pada malam hari. Dalam pergantian waktu tersebut Allah sudah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk beribadah. Shalat lima waktu adalah ketetapan akhir yang diperintahkan Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw. dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya adalah ketentuan waktu untuk shalat fardhu. Dari kelima waktu tersebut, Subuh adalah shalat wajib pertama yang dilakukan umat Islam setelah bangun dari tidurnya.

Di antara keutamaan perintah shalat Subuh menurut Ketua MUI Kota Surakarta Bapak Dr. Zainal Arifin Adnan, Sp.PD adalah mengawali segala aktivitas sehari dengan ridho Allah swt. “Jika pagi hari sudah kita lalui dengan ridho Allah, mudah-mudahan waktu selanjutnya menjadi berkah. Inilah yang membedakan umat Islam dengan lainnya. Meskipun sama-sama bangun pagi, namun umat Islam mengutamakan mencari karunia akhirat dulu ketimbang dunia semata,” terang dokter spesialis penyakit dalam ini.

Ibnul Qoyyim rahimahullah. berkata, “Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya" (Miftah Daris Sa'adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.

Malas dan bodoh menurut Dr. Zainal adlaah dua hal yang berbeda. “Orang yang bodoh atau tidak tahu mengenai suatu hal dapat dimaafkan dan tidak terkena hukum dosa. Akan tetapi orang yang tahu tetapi malas, bisa kena dosa.” Berapa banyak dari kita yang kerap tidur lagi karena masih mengantuk dan akhirnya terlambat shalat Subuh?

Keterlambatan bangun di waktu pagi, termasuk terlambat shalat Subuh selain menjadi catatan tersendiri bagi amal ibadah yang dinilai Allah, juga membawa dampak dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa orang mengaku mengalami ketidaknyamanan dalam menjalani harinya. Seperti Dewi (16) dan Amanda (14). Secara psikis ada perasaan tidak enak dan seperti menanggung beban, istilahnya badmood. “Nggak bisa menikmati hari deh. Rasanya kayak ada yang hilang. Apalagi bawaannya ngantuk melulu seharian.” Keduanya mengaku jarang terlambat bangun, tetapi memang adakalanya karena kecapekan shalat Subuh jam 5.00 atau lewat.

Keterbatasan Bukanlah Hambatan

Bersyukur umat Islam di Indonesia memiliki lingkungan geografis yang iklimnya mendukung. Hanya ada dua musim yang terjadi di Indonesia, yakni musim kemarau dan musim hujan. Waktu Subuh tidak mengalami banyak pergeseran. Biasanya waktu Subuh berkisar sekitar jam 4 sampai jam 5-an. Namun tidak demikian halnya dengan mereka yang tinggal dengan empat musim. Seperti Perancis misalnya. Salah seorang mahasiswa Indonesia yang pernah tinggal di Prancis, Wahyu (24) menuturkan pengalamannya.

“Di Prancis ada empat musim yang selalu bergantian. Kadang waktu siang lebih lama dari waktu malam dan sebaliknya, waktu malam yang lebih lama. Waktu shalat tidak bisa ditetapkan dengan pasti setiap tahunnya. Di sana, setiap masjid mengeluarkan jadwal shalat yang berbeda setiap tahun,” kata Wahyu. Pun di Prancis tidak ada kumandang adzan yang akan mengingatkan kaum muslimin untuk shalat tepat waktu. Lantas dengan apa kaum muslimin melaksanakan kewajiban shalatnya?

Tidak ada jalan buntu untuk menggapai ridho Allah swt. Di sana, kaum muslimin menggantungkan waktu shalat dengan sistem komputer. Ada software adzan yang sudah diset khusus dengan waktu Prancis. Waktu Subuh paling pagi dilakukan pada jam 3.00 dan paling siang jam 7 pagi. Bayangkan, sangat ekstrim bukan? Tentunya kondisi geografis di daerah seperti Prancis menuntut kesadaran lebih dari kaum muslimin di sana. Karena tidak seperti kita di Indonesia, setiap memasuki waktu shalat selalu diingatkan dengan kumandang adzan. Maka bersyukurlah kita dengan karunia Allah ini. Tidak semua muslim seberuntung kita. Fabiayyi rabbikuma tukadzdziban? (If)



blog comments powered by Disqus

Share this post